Kerajaan Islam Gowa-Tallo

Assalamualaikum wr. wb.


Kami kelompok 8 kelas X IPS A dari SMAN 55 Jakarta ingin berbagi wawasan mengenai salah satu Kerajaan Islam di Indonesia yaitu Kerajaan Gowa-Tallo. Selamat membaca.



1. Letak kerajaan


Kerajaan Gowa-Tallo terletak di Sulawesi Selatan, bagian pesisir barat. Tepatnya di wilayah Kabupaten Gowa dengan Sungguminasa, Sumba Opu sebagai ibu kotanya.


2. Pendiri Kerajaan & Raja Yang Berkuasa

Kerajaan Gowa Tallo didirikan oleh Tumanurung Bainea sebagai pemimpin pertama Gowa pada awal abad ke-13 atau sekitar tahun 1300-an. Dari awal abad ke-13 sampai tahun 1957, kerajaan ini telah mengalami pergantian pemimpin sebanyak 36 kali. Berikut beberapa Raja yang pernah berkuasa di Gowa-Tallo :

1. Karaeng Matoaya

Karaeng Matoaya merupakan raja Tallo yang merangkap sebagai mangkubumi Kerajaan Gowa, dan bergelar Sultan Abdullah dengan julukan Awalul Islam.

2. Sultan Alaudin

Sultan Alaudin merupakan raja Gowa yang memiliki nama asli Daeng Manrabia. Raja Gowa dan Tallo disebut Penguasa Dwitunggal. Mereka dengan gigih memimpin kerajaan.

3. Sultan Muhammad Said

Sultan Muhammad Said merupakan pengganti Sultan Alaudin. Ia meneruskan perjuangan ayahnya dan terus berjuang melawan Belanda. Ia wafat pada tahun 1653.

4. Sultan Hasanuddin

Sultan Hasanuddin adalah raja yang memimpin pada masa kejayaan dan kemunduran kerajaan gowa tallo. Dia adalah putra Sultan Muhammad Said yang memerintah dari tahun 1653 sampai 1669.

5. I Mappasomba

I Mappasomba adalah pengganti Sultan Hasanuddin. Ketika menjadi raja, ia masih berusia 13 tahun. Ia bergelar Sultan Amir Hamzah. Beliau wafat pada tanggal 7 Mei 1674. Penggantinya adalah Sultan Ali. Namun, kerajaan pada masa ini sudah tidak berkembang lagi.


3. Masa Awal Berdiri, Perkembangan, & Kejayaan

Kerajaan Gowa-Tallo adalah kerajaan di Indonesia yang bercorak agama Islam terbesar di Sulawesi Selatan. Kerajaan ini berdiri pada sekitar abad ke 16. Kerajaan Gowa-Tallo juga dikenal sebagai Kerajaan Makassar. Kerajaan Gowa-Tallo adalah kerajaan gabungan antara Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo yang dimiliki dua orang bersaudara. Dua kerajaan ini bersatu saat pemerintahan Raja Daeng Matanre Karaeng Tumapara’risi Khallona.

Kerajaan ini bersatu atas dasar kesepakatan, sehingga rakyat kedua kerajaan pun tidak memihak siapapun. Meski begitu, mereka memiliki dua raja yang sama-sama berkuasa di wilayah masing-masing. Awalnya Kerajaan Gowa-Tallo bukan Kerajaan Islam. Kemudian pada akhir abad ke-16, Kerajaan Gowa-Tallo memasuki masa Islam dan berubah menjadi kesultanan. Raja yang pertama kali memeluk Islam di Kerajaan Gowa Tallo adalah Sultan Alauddin. Agama Islam di Gowa semakin pesat. Pada tahun kedua kesultanan, semua rakyat kerajaan akhirnya beragama Islam.


Kerajaan Makasar mencapai puncak kebesarannya pada masa pemerintahan Sultan Hasannudin (1653-1669). Pada masa pemerintahannya Makasar berhasil memperluas wilayah kekuasaannya yaitu dengan menguasai daerah-daerah yang subur serta daerah-daerah yang dapat menunjang keperluan perdagangan Makasar. Ia berhasil menguasai Ruwu, Wajo, Soppeng, dan Bone. Perluasan daerah Makasar tersebut sampai ke Nusa Tenggara Barat.

Daerah kekuasaan Makasar luas, seluruh jalur perdagangan di Indonesia Timur dapat dikuasainya. Sultan Hasannudin terkenal sebagai raja yang sangat anti kepada dominasi asing. Oleh karena itu ia menentang kehadiran dan monopoli yang dipaksakan oleh VOC yang telah berkuasa di Ambon. Untuk itu hubungan antara Batavia (pusat kekuasaan VOC di Hindia Timur) dan Ambon terhalangi oleh adanya kerajaan Makasar. Dengan kondisi tersebut maka timbul pertentangan antara Sultan Hasannudin dengan VOC, bahkan menyebabkan terjadinya peperangan. Peperangan tersebut terjadi di daerah Maluku.

Dalam peperangan melawan VOC, Sultan Hasannudin memimpin sendiri pasukannya untuk melawan pasukan Belanda di Maluku. Akibatnya kedudukan Belanda semakin terdesak. Atas keberanian Sultan Hasannudin tersebut maka Belanda memberikan julukan padanya sebagai Ayam Jantan dari Timur.


4. Faktor Pendorong Kemajuan Kerajaan

Kemajuaan kerajaan Gowa-Tallo ditunjang oleh beberapa faktor seperti letaknya yang strategis, mempunyai pelabuhan yang baik, ditambah didukung oleh jatuhnya Malaka ke tangan Portugis tahun 1511 yang menyebabkan banyak pedagang-pedagang yang pindah ke Indonesia Timur. Sebagai pusat perdagangan, Makassar pun berkembang sebagai pelabuhan internasional dan banyak disinggahi oleh pedagang asing seperti Portugis, Inggris, dan Denmark yang datang untuk berdagang di sini.


5. Masa Keruntuhan & Sebab-Sebabnya

Pada tahun 1667, raja kerajaan Bone yaitu Arung Palakka meminta bantuan Belanda untuk menyerang Hasanuddin karena wilayahnya dikuasai Gowa Tallo, maka dengan cepat Belanda menyambutnya. Belanda menyerang dari laut, sedangkan Arung Palakka menyerang dari darat. Dengan tekanan yang demikian berat akhirnya Belanda mampu memaksa Gowa Tallo menandatangani Perjanjian Bongaya.

Isi dari perjanjian Bongaya antara lain:
1. Makassar harus mengakui monopoli VOC 2. Wilayah Makassar dipersempit hingga tinggal Gowa saja 3. Makassar harus membayar ganti rugi atas peperangan 4. Hasanuddin harus mengakui Arung Palakka sebagai Raja Bone 5. Gowa tertutup bagi orang asing selain VOC 6. Benteng-benteng yang ada di dalam harus dihancurkan kecuali benteng Rotterdam

Perjanjian Bongaya ternyata tidak berlangsung lama, karena Sultan Hasanuddin kembali memimpin peperangan dengan Belanda. Awalnya Belanda merasa kewalahan. Namun dengan senjata lengkap, mereka dapat memukul mundur Sultan Hasanuddin. Pertahanan Sultan Hasanuddin kembali terpuruk, ketika Benteng Somba Opu jatuh ke tangan Belanda. Akhirnya Sultan Hasanuddin menyerahkan kekuasaan kepada putranya, Mappasomba yang bergelar Sultan Muhammad Ali sebagai Raja Gowa XVII.

6. Warisan Kerajaan 

Kerajaan Gowa Tallo banyak meninggalkan bukti sejarah yang dapat dilihat hingga saat ini. Berikut jejak peninggalan Kerajaan Gowa Tallo :


1. Istana Balla Lompoa


Balla Lompoa merupakan istana yang pernah menjadi hunian para Raja Gowa dan terletak di Kota Sungguminasa. Saat ini, Istana Balla Lompoa sudah menjadi situs budaya.


2. Istana Tamalate


Selain Balla Lompoa, ada juga Istana Tamalate sebagai jejak peninggalan dari kejayaan Kesultanan Gowa yang juga berlokasi di Kota Sungguminasa.

3. Masjid Katangka


Masjid Katangka atau saat ini disebut Masjid Al-Hilal adalah salah satu masjid tertua di Sulawesi Selatan yang dahulu menjadi masjid Kesultanan Gowa.


4. Benteng Somba Opu


Benteng Somba Opu termasuk saksi bisu sejarah Kerajaan Makassar yang sebelumnya dijadikan pusat pemerintahan sekaligus perdagangan.

5. Benteng Fort Rotterdam


Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang merupakan bekas markas pasukan katak Kerajaan Gowa Tallo yang setelah Perjanjian Bongaya menjadi milik Belanda.

7. Hal Menarik

1. Ayam Jantan dari Timur

Julukan untuk Kabupaten Gowa di mata Indonesia didapat karena salah satu pahlawannya yaitu Sultan Hasanuddin berhasil mengusir kedudukan belanda yaitu VOC yang ingin menguasai Kerajaan Gowa. Namun perlu ketahui pula bahwa julukan itu bukan hanya sekedar nama saja tapi juga tergambar dari bentuk wilayah administratifnya dalam sebuah peta yang menunjukkan keberadaan Kabupaten Gowa.

2. Saksi Sejarah yang Tetap Berdiri Kokoh

Kerajaan Gowa memiliki 14 benteng berbeda dan hanya Benteng Somba Opu yang masih tersisa hingga sekarang, dan itulah mengapa Benteng Somba Opu dikatakan saksi sejarah yang masih tersisa di Kabupaten Gowa. Benteng Somba Opu dibangun oleh Sultan Gowa ke IX, Daeng Matanre Karaeng Tumaparisi Kallonna tahun 1545.

3. Tempat Kelahiran Sang Pejuang di Dua Negara

Syeikh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makassari Al-Bantani atau dikenal sebagai Syeikh Yusuf adalah seorang ilmuwan, sufi, penulis, dan komandan perang abad 17. Nelson Mandela sebagai presiden Afrika pada tahun 1994 mencatatnya sebagai salah seorang putra Afrika terbaik dan pejuang kemanusiaan. Dan sebelum itu, ternyata Indonesia juga menobatkan beliau sebagai Pahlawan Nasional dari tanah Gowa atau sekarang dikenal sebagai Makassar.

4. Jejak Kerajaan Gowa

Sejarah Kabupaten Gowa lekat dengan sejarah Kerajaan Gowa. Kerajaan itu didirikan pada 1320 oleh Kasuwiyang-Kasuwiyang, sebutan sembilan kerajaan kecil yang sebelumnya menguasai daerah tersebut. Sejak kerajaan berdiri, banyak pencapaian yang didapatkan Kerajaan Gowa, antara lain perluasan kerajaan yang hampir meliputi seluruh Sulawesi Selatan dan perjuangan Sultan Hasanuddin mempertahankan perdagangan di laut lepas dari VOC. Pada 1667 dibuatlah Perjanjian Bongaya (Cappaya ri Bungaya) yang ternyata merugikan Kerajaan Gowa. Setelah hampir 16 tahun melawan penjajah, Sultan Hasanuddin melepaskan jabatannya pada 1669.

5. Batu Pallantikang

Batu Pallantikang atau Batu Pelantikan Raja merupakan tempat pelantikan raja-raja Gowa. Batu ini terletak di sebelah tenggara Kompleks Pemakaman Tamalate. Batu Pallantikang ini juga dikenal sebagai batu Tomanurung. Dahulu, setiap raja Gowa yang memerintah bersumpah di atas batu. Batu Pallantikang ini merupakan batu asli yang terbuat dari batu andesit yang diapit oleh dua batu kapur. Masyarakat setempat meyakini, batu andesit merupakan batu dari dewa kayangan.

6. Air Terjun 3 Kerajaan dan Sungai Terbesar

Wilayah Gowa dilalui banyak sungai yang potensial menjadi sumber tenaga listrik dan pengairan. Sungai terbesarnya adalah Sungai Jeneberang yang juga sungai terbesar se-Sulawesi Selatan dengan luas 881 kilometer persegi dan panjang mencapai 90 km. Pemerintah Kabupaten Gowa bekerja sama dengan Jepang pada 1992 membangun proyek DAM bili-bili seluas 2.415 kilometer persegi di atas Sungai Jeneberang. Pembangunan ini difungsikan untuk menyediakan air irigasi, konsumsi air bersih untuk Kabupaten Gowa dan Makassar, serta untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air.


7. Perkebunan Teh

Perkebunan teh tidak hanya dimiliki oleh Provinsi Jawa Barat saja, Kabupaten Gowa di Sulawesi Selatan ini juga memiliki perkebunan teh. Perkebunan Teh Malino Highland terletak di Kelurahan Malino, Kecamatan Tinggimoncong. Daerah Malino ini, dihiasi oleh pemandangan gunung, batu gamping, dan pinus. Luas perkebunan mencapai 200 hektare. Tempat ini menjadi salah satu destinasi wisata dari Kabupaten Gowa.


8. Tari Kipas Pakarena

Tari Kipas Pakarena biasanya ditampilkan dalam pada acara-acara yang bersifat menghibur serta sebagai pelengkap dalam upacara adat. Penampilan Tari Kipas Pakarena dimainkan oleh lima hingga tujuh orang dengan menggunakan pakaian adat. Alat musik yang digunakan untuk mengiringi tarian ini yaitu Gondrong Rinci, perpaduan antara genderang dan seruling. Berdasarkan mitos, tari ini berasal dari momen perpisahan antara menghubungi negeri kayangan dengan penghuni bumi. Penghuni negeri kayangan mengajarkan cara bertahan hidup melalui gerakan badan dan kaki sebelum perpisah. Oleh warga Bumi, gerakan ini digunakan untuk mengungkapkan rasa syukur.


9. Makanan Khas

Makanan yang terkenal di Kabupaten Gowa yaitu Coto. Dahulu, kuliner ini merupakan simbol dari kebesaran Raja Gowa. Kuliner coto berisi daging sapi dengan kuah rempah yang gurih. Walaupun coto identik dengan Makassar, wilayah yang berbatasan dengan Makassar memungkinkan memiliki makanan khas yang sama. Hidangan ini pertama kali disajikan pada 1538 untuk hidangan kepada keluarga Kerajaan Gowa dan untuk menyambut tamu kerajaan. Setelah sistem kerajaan runtuh, hidangan coto berkembang karena banyak masyarakat yang penasaran dengan rasanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gedung Pencakar dan Rumah Kumuh.